Showing posts with label Gender. Show all posts
Showing posts with label Gender. Show all posts

Sunday, September 26, 2010

Perjodohan

Ada Pertanyaan masuk ke emailku:

mbak aku minta tolong, temenku mau dijodohin and disuruh menikah ama orang tuanya tapi dia gak siap dan begitu gitu suka atau kenal ama calon suaminya.Dia nolak tapi ortunya marah, dan tidak mau peduli. Aku tidak bisa ngasik masukan karena tidak tau mesti bantu gimna. pie yo mbak?? aq rasa sampean bisa ngasik masukan yang lebih baik. help, kasihan dia

Lalu Aku Jawab :

begini, aku akan mencoba menganalisis dari 2 sisi, sisi sang anak dan sisi orang tua. Kebetulan penelitianku tentang arranged marriages (perjodohan) ini:

Ada beberapa hal yang menjadi alasan orang tua melakukan perjodohan:
1. Ingin mememnuhi tanggung jawab sebagai orang tua yang harus menghantarkan anak-anaknya ke jenjang pernikahan
2. Memastikan anaknya mendapat jodoh yang selevel dalam segi agama, sosial, dan ekonomi
3. Orang tua ingin mendapat keuntungan dari rencana perjodohan ini, ya keuntungan itu bisa berupa materi, sosial status atau lainnya.
4. Orang tua merasa lebih punya pengalaman dalam hal rumah tangga jadi wajar ingin mengarahkan anak.
5. Kacamata yang dipakai orang tua biasanya lebih komplek dari pada kacamata kita. Kalau kita sering kali memikirkan hanya dari segi fisik, contoh, cakep, kaya, pinter, kalau orang tua kadang berpikir hal yang lebih rumit, seperti apakah keluarga dia dan keluarga calon besan bisa nyambung? bagaimana kehidupan mendatang anaknya setelah menikah? dsb

Dari sisi anak:
A. Bila menolak
1. Sudah punya calon sendiri
2. Merasa calonya tidak kriterianya
3. Tidak mengenal calonnya

B. Menerima
1. Ingin tawaduk ke orang tua
2. Merasa calon ortunya adalah lebih baik dari pilihan dia
3. tidak punya calon sendiri
4. pressure dari masyarakat dan keluarga untuk segera menikah

Dalam islam ada istilah Ijbar, yang banyak diartikan bahwa wali (ayah atau kakek) bisa menikahkan anak perempuannya yang masih perawan. hal ini yang sering dijadikan alasan ortu untuk memaksakan kehendaknya kepada anak, bahkan anak akan dihukum bila menolak. Padahal Ijbar disini menurut kanjeng nabi adalah DIskusi, bukan pemaksaan. Dalam artian diskusi antara anak dan orang tua lebih diutamakana dari pada pemaksaaan kehendak dari satu pihak.

Ada cerita, seorang sahabat perempuan Nabi yang bernama al-Khansa lapor ke nabi bahwa dia telah dinikahkan oleh ayahnya dengan sepupunya dengan tanpa minta persetujuan dari al-khansa., jadi ayah al-khansa menikahkan dia tanpa minta persetujuan/berdiskusi dengan al khansa etrlebih dahulu. Mendengar laporan itu Nabi Muhammad langsung membatalakan pernikahan al-khansa. Waktu itu al-khansa bilang "sebenarnya sayua bisa saja menerima pernikahan ini, dengan tindakan ini saya hanya ingin menunjukkan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada anak."

Untuk kasus temanmu aku tidak tahu posisi dan alasan masing2 pihak, jadi aku gak bisa memberi komentar banyak. Nurut aku diskusi kedua belah pihak harus lebih dikedepankan.

Oya, Ijbar hanya boleh dilakukan bila tidak ada permusuhan anatara ortu dan anak.

salam

Lowongan Konsultan

Call for Proposal on Early Marriage Research Consultancy-Plan Indonesia

Plan Indonesia is an international child-centered humanitarian and community development organization promoting the rights and the best interest of children. Plan’s vision is of a world in which all children realize their full potential in societies that respect people's rights and dignity. Plan works to achieve lasting improvements for children living in poverty in developing countries, through a process that unites people across cultures and adds meaning and value to their lives.

Plan Indonesia is seeking for consultant to conduct early marriage research. The principal purpose of this study is to examine sociocultural and economic causes, extent and consequences of early marriage in Indonesia. The study is designed to achieve several goals. First, it will capture the national trend on early marriage as much as the quantitative data as possible. Second, the study will highlight the existing legal aspects in dealing with early marriage as well as the major actors involved. Third, the study will be more contexts specific in Plan districts which have high prevalence of early marriage. In the context specific study, the focus will be to identify the knowledge and understanding of the different stakeholders toward early marriage as well as to analyze the cause and impact of early marriage. It will also identify the existing mechanism in the district level in dealing with early marriage. The study will combine of qualitative
and quantitative methods. The quantitative baseline study will be conducted in 6 districts of Plan working areas that are Districts of Rembang and Grobogan ( Central Java ) , Soe, Sikka and Lembata (East Nusa Tenggara) and Dompu (West Nusa Tenggara). While, the in-depth study will be conducted in 4 districts as mentioned above, excluding Lembata and Grobogan.

This opportunity is open both for Consulting Firms and Individual Consultants. Deadline for submission is September 30th, 2010, and all documentation/materials should be written in English. Only shortlisted candidates will be contacted. To have the complete of Research TOR please contact to Bekti.Andari@plan-international.org and cc-ed to supriyono@plan-international.org

Thank you for your attention.

Bekti Andari
Gender Specialist

Plan Indonesia
Menara Duta Building 2th Floor
Jalan H.R. Rasuna Said Kav. B-9 Kuningan
Jakarta Selatan-12910, Indonesia
www.plan-international.org
P :+62-21-5229566
F :+62-21-5229571
Email : Bekti.Andari@plan-international.org

Darah Tercecer

Duarrrrrrrrr

Dentuman meriam pecah seiring dengan lengkingan suaramu
Menjerit
Darah mengucur bagaikan hujan
Langit kelam
Halilintar merobek indahnya sinar bulan

Dagingmu hitam terpanggang
Serpihan meriam telah mecopoti jari-jarimu
hingga terberai dimakan tikus curut

Purdah yang menutupi tubuh sucimu tak lagi berbentuk
bahkan harum zaitun dari tubuhmu telah berubah
jadi bau anyir, bau kematian

Seonggok tubuh mungil yang baru menghirup panasnya udara dunia sebulan lalu masih dalam dekapanmu
Dia diam
Tak menjerit
Tak berteriak
Tak juga merintih

Selimut yang membalut tubuh merah bayi itu terkoyak
Membuyarkan separuh lengan mungilnya
Dan potongan lengannya terlempar di ujung kamar sempit yang telah poranda

Tak ada air mata keluar
Badanmu hanya menggigil menahan perih dan kesakitan di sekujur tubuh

Duarr....

Bunyi meriam terdengar lagi
Dan tubuhmu bagaikan kambing yang disembelih saat lebaran idul Adha
Mengejang...
Bergetar..
Melotot..
Mata, hidung, mulut, dan telingamu memuntahkan darah segar
dan....
Dengan sisa nyawa kau mencoba mendekap tubuh anakmu
Sebelum akhirnya malaikat benar-benar mencabut nyawamu
Mengantarkanmu berkumpul dengan anak dan suamimu

Selamat jalan perempuan Palestinaku

Women and Politic

Beberapa hari lalu aku membaca beberapa news di koran dan radio US tentang kunjungan Obama dan Michelle ke gedung putih. Di situ ditulis bagaimana President Bush dan elected president, Obama mendiskusikan banyak hal tentang America ke depan, terutama problem ekonomi yang sedang menimpa US. Jadi keduanya digambarkan selayaknya pemimpin negara yang bertemu.

Interestingly, gambaran ini berbalik, ketika penggambaran Laura Bush dan Michelle Obama. Laura dikabarnya memberikan pesan-pesan bagaimana menjadikan rumah dinas tersebut selayaknya rumah sendiri.

tentu hal ini kontras sekali dengan gambaran Bush dan Obama. Saya pribadi tidak percaya kalau kedua ibu negara ini hanya mendiskusikan hal-hal yang sifatnya domestik. Saya percaya Michelle adalah orang cerdas, pasti dia akan mencari tahu banyak hal tentang peran sebagai Ibu negara dalam memajukan US dari seniornya. Michelle tentu tidak akan membuang waktunya hanya untuk mengobrolkan hal pengaturan rumah. Tapi kenapa yang di angkat oleh media hanya masalah domestic issues?. Pasti ini kaitannya dengan social construction tentang peran perempuan yang hanya di private sphere.

Saya juga sempat tidak habis pikir ketika baca di salah satu koran yang mengomentari pakaiannya Michelle ketika pidato kemenangan Obama di Chicago. Begitu juga ketika banyak yang mengkritisi penampilan Sarah Palin. Kritik penampilan juga berulang kali menimpa Hillary Clinton saat dia sedang bertarung dengan Obama untuk mendapat tiket maju sebagai calon president dari partai Demokrat. Lalu, kenapa yang disoroti soal baju, make up, sepatu, dan aksesoris lainnya hanya perempuan? Kenapa juga pandangan, sikap dan opini dari para perempuan-perempuan ini tidak dikedepankan dari pada hanya ngomongin soal baju?. Lagi-lagi body image selalu tidak bisa dilepaskan dari sosok perempuan. Perempuan lebih dilihat dari segi penampilan fisik dari pada sisi kecerdasan dia.

Kasus jatuhnya mantan presiden Filipina, Marcos, juga selalu dikaitkan dengan istrinya. Dalam sebuah buku yang saya baca disebutkan bahwa akibat hobby shoppingnya istrinya, Marcos menjadi korupsi dan akhirnya jatuh. Memang tidak bisa dipungkiri bila peran istri sangat mempengaruhi karir politik pasanganya, tapi bukan berarti selalu dilihat dari segi negativenya saja. Imelda Marcos pasti juga berkontribusi besar mengantarkan suaminya ke duduk di kursi presiden. So, menjatuhkan perempuan sebagai kelompok yang paling bersalah adalah bagian untuk mencengkram perempuan agar selalu bisa berada dalam genggaman tradisi patriarchy.

Bagaimana kemudian dengan kasus pemilihan gubernur di Jawa Timur sekarang? seorang kawan sempat melontarkan sebuah pertanyaan tentang kemungkinan adanya "penyusup" yang anti pemimpin perempuan dalam KPU, hingga dengan berbagai cara menjegal perempuan menjadi pemimpin Jawa Timur. hemmmm bisa jadi benar.

Hawaii, November 13, 2008

Pink Voice

Kemarin di kelas "Advanced Topic in Feminist Studies and Education" kita menerima guest speaker, yakni Dr Sarah Twoney, seorang dosen di curriculum studies di univ ku. Dia memberi judul diskusi kita malam itu dengan "I'm (possible) Literacies: Digital Play, Gender and Schooling."

Kelasku yang hanya terdiri dari 4 students tersebut semakin hangat dengan diskusi yang menarik ini. Sarah menerangkan kalau tema tersebut adalah bagian dari projectnya. Dia telah meneliti masalah ini beberapa tahun dan yang diteliti adalah murid-murid di high school.

Dalam penelitiannya terungkap kalau murid laki-laki lebih banyak menggunakan fasilitas komputer untuk bermain game, sebaliknya murid perempuan lebih memanfaatkan komputer untuk searching materi-materi tentang science.

Sarah juga mempunya web yang dibuatnya dengan kawannya. web tersebut diberi nama Pink Voice. Maksud pink voice adalah tempat diskusi sesama murid-murid perempuan. Memang dalam kenyataanya ketika dalam komunikasi, perempuan sering tidak bisa menjadi dirinya sendiri kalau teman ngobrolnya adalah lawan jenis. Gender construction juga berimplikasi dalam komunikasi sehari-hari.

Aku pernah membaca artikel hasil penelitian, disitu diterangkan bahwa kalau di chat room yang isinya mix gender, biasanya orang yang menggunakan nama-nama maskulin lebih sering menyapa dengan kata-kata yang menjurus ke arah sex, bahkan obrolannya tidak jauh-jauh dengan sex. Dan itu terjadi juga bila chat roomnya khusus laki-laki, disamping obrolan soal sport, topic sex tidak pernah lepas. Ini tidak sama ketika masuk chat room yang untuk perempuan, mereka lebih banyak sharing tentang sibuknya mengurus rumah tangga, tentang anak-anak mereka dan juga sering juga obrolan tentang pekerjaan.

Dari sini aku jadi teringat pikiran yang sempat menggelitik otakku beberapa waktu lalu. Bila aku amati dari banyak kawan blogger, kebanyakan ibu-ibu yang aktif di blogger mempunyai blog lebih dari satu. Biasanya blog yang satu untuk pekerjaan dan blog satunya untuk menulis tentang aktifitas sehari-harinya dengan keluarga. Paling tidak ibu-ibu yang blogger -dalam pandangan saya- selalu memiliki space tersendiri sebagai tempat untuk keluarga. Coba bandingkan dengan blogger laki-laki -ini tentu juga sejauh pandanganku-, mereka hanya memiliki blog satu dan itu untuk pekerjaan mereka. Jarang sekali blogger cowok yang punya space tersendiri yang menceritakan tentang aktifitas dengan keluarganya.

Aku jadi mikir, apakah itu karena ibu-ibu lebih banyak waktunya dengan keluarga? Ah sepertinya enggak juga tuh, aku tahu kok banyak ibu-ibu blogger yang pergi pagi dan pulang sore untuk bekerja, sama dengan suami-suami mereka. Ataukah itu sebagai bentuk ungkapan penyesalan para Ibu-ibu yang tidak bisa selalu menemani buah hati mereka, hingga mereka ingin selalu merekam aktifitas sekecil apapun dengan keluarganya dalam blog?, bisa juga jawabannya iya, bila memang itu masalahnya, lalu apakah bapak-bapak itu juga tidak perlu menyesal telah meninggalkan buah hati mereka begitu lama untuk bekerja?? Mungkin juga jiwa perempuan yang sarat dengan perasaan membawa Ibu-ibu untuk bisa menyalurkan apa yang dia rasakan dalam space tersendiri.

Apapun alasannya dari sini bisa di lihat bagaimana perbedaan gender telah membuktikan cara yang berbeda pula dalam mengungkapkan perasaan.

Hawaii, October 25, 2008

Our Body

Kemarin saat baca paper yang berjudul "Exploring Feminist Women's Body Counciousness" aku sempat sad banget. Paper yang ditulis oleh mahasiswa dari Arizona State University (ASU-USA), ngomongin soal body image.

Kayaknya paper ini benar-benar sama dengan kondisiku. Seperti yang telah dilihat dan diketahui bersama, kalau size tubuhku termasuk besar. Kalau di US, aku merasa sangat nyaman dengan tubuhku, maksudnya walaupun tubuhku gendut tapi aku enjoy. Mungkin karena ukuran tubuh orang US juga banyak yang gede, jadi aku merasa tidak sendiri. Mungkin juga aku merasa pede karena aku bisa dengan mudah mencari ukuran bajuku di US, bahkan ukuran bajuku masih termasuk L, padahal di US ada ukuran baju yang X5L. Mungkin juga kenyamananku karena orang sini tidak perduli dengan ukuran tubuh, jadi tidak pernah ada yang mengomentari tubuhku.

Tapi kondisi ini berbalik 100% kalau aku di Indonesia. Sebenernya dibawah alam sadarku, aku sangat ketakutan dengan ketidak nyamanan ukuran tubuhku bila aku di Indonesia. Ampe sebulan sebelum pulang biasanya aku sudah mulai belajar peace dengan komentar2 yang bakal aku terima, aku juga belajar peace dengan hatiku yang terus brontak dengan bebagai macam "pelecehan" yang aku terima.

DI Indonesia, kalau aku ketemu teman or saudara, bisa dapat dipastikan komentarnya seragam "Lho, nduk kok tambah gemuk ya." Hatiku sebenernya protes kenapa sih mereka selalu tanya seperti itu, kenapa mereka tidak mementingkan bertanya gimana kondisi sekolahku or kesehatanku misalnya, dari pada hanya ngomongin tubuh. Tapi lagi-lagi semua protes hanya aku simpan dalam kegetiran hati.

Belum lagi kalau aku harus nyari baju. Ampuuuuuuunnnnn benar-benar perjuangan. Perasaan jengkel, malu dan sebel sering menyerangku. Bayangkan suatu saat aku pernah masuk ke pusat perbelanjaan, terus aku lihat-lihat baju, ada baju yang menarik, aku tanya ke penjaganya untuk minta ukuran yang paling gede, tapi ternyata setelah aku coba tetep aja tidak muat. Mau tau komentar penjaganya itu "Wah Mbak, ukuran baju ini yang paling besar. Yang salah kayaknya bukan ukuran bajunya sih, tapi badan mbak." TUHANNNNN, andaikan saat itu Allah mencabut sedikit aja kesadaranku, pasti penjaga itu sudah aku tonjokkkkkkkk. Aku benar-benar hanya jadi penonton kalau lagi shopping dengan teman-teman ke outlet2, la gimana lawong semua baju dan celana hanya untuk ukuran orang yang 'kecil'.

Itu baru urusan baju, belum lagi dengan sandal/sepatu. Untuk ukuran cewek, ukuran kakiku emang gede. Sekitar nomor 40/41. Dan tahu sendirilah sulit nyari sandal /sepatu lucu-lucu yang seukuran itu. Pernah aku muter nyari sepatu untuk acara wisuda dengan temanku. Pengennya sepatu yang agak berhak, biar pantas dipandankan dengan songket. Tapi perburuan selama dua hari di Jogja, tidak juga menemukan sepatu itu. Temenku sampe komentar "Dasar kaki gajah." Di US, aku seperti menemukan tempatku, aku bisa dengan mudah mencari sepatu or sandal yang sesuai dengan ukuran kakiku. Makanya sekarang aku sering banget shopping sepatu/sandal, ya itung-itung balas dendam lah. Kata Suamiku buat investasi di Indonesia nanti.

Ternyata bukan hanya body yang menghalangiku untuk memilih pakaian, statusku sebagai Ibu dua anak juga sangat mempengaruhiku. Pernah suatu saat aku pake baju (yang kata orang sok ABG) dan aku padankan dengan celana jins dan sepatu ket. Eh ada saudaraku yang berkomentar "Nik, kamu itu harus sadar dua hal sebelum berpakaian. Satu, body kamu tuh enggak pantas pake baju neko-neko. Dua, kamu itu udah punya anak dua lho." Ya Allah, sedih sekaliiii. Memang aku punya dua anak, bahkan anak pertamaku sudah umur 9 tahun, tapi lagi-lagi aku pengen teriak kalau aku juga masih MUDA, umurku masih dua puluh delapan tahun.

Pernah juga keponaan sepupu dari suamiku laporan ke mertuaku, saat itu aku masih kuliah S1, dia bilang ke mertuaku "Mbah, Mbak Ninik tuh sok kayak anak muda, masak pakenya celana jins, bawa tas ransel, dan suka lihat konser lagi." Kan waktu aku kuliah, aku sudah punya anak. Tapi syukur banget mertuaku orangnya moderat, mendapat laporan begitu, abah mertuaku jawabnya enteng aja "Ya enggak apa-apa, Ninik kan emang juga masih muda." Ihhhhhhh kapooooookkk rasain deh hehehe.

Satu-satunya orang yang tidak pernah protes dengan pakaian dan tubuhku, dan hanya didepan dia aku selalu pede dengan tubuhku adalah MY BELOVED HUSBAND. Thanks ya sayang.

Terlepas dari itu semua, sebenernya aku pengen berontak dari body image yang berkembang di masyarakat, tapi sulit banget. Sering kali aku merasa Ugly, karena di satu sisi aku sudah fokus mempelajari tentang gander, tapi di sisi lain aku masih sangat terpengaruh dengan body image yang jelas-jelas social construction dari budaya patriachy ini.

OK teman, bebaskan BODY mu dari semua yang mengekang. The person who has your body is only you.

Hawaii, September 13, 2008

Ayat-Ayat Cinta dalam Kritik

Aku sudah pernah nonton film AAC berkali-kali, semalam film ini di putar di Korean Studies Centre, yang mengadakan adalah program Southeast Asia Department. Sebenernya muales nonton, cuman Babah belum pernah nonton dan minta ditemani, ya udah wes aku nonton, sambil bawa minum dan beberapa buah untuk buka puasa.

Ada sekitar 50-an orang yang nonton, kebanyakan dari mereka adalah student-student yang konsentrasi di bidang Indonesia, salah satunya si Bule gila satu ini, Lance. Selain pinter bahasa Indonesai, dan focus penelitiannya tentang suku Bajo di SUlawesi, dia juga penggila masakan Indonesia. Kata teman-teman, Si Lance ini orang Indonesia yang kebetulan lahir di US,hehhe.

Setelah nonton, aku, Babah dan Lance berdiskusi. Kata Lance, nih film membingungkan, apasih pesan yang akan dikirimkan, kok kayaknya pesan yang di awal film dan di akhir film berbeda. Kemudian sambil berjalan pulang menuju Dormitory, Lance mengkritisi film yang menghebohkan ini. Dia bilang, "ketika di awal film, aku pikir film ini bagus banget, yakni menceritakan tentang hubungan orang Islam yang sholeh dan orang Kristen yang baik. Tapi ketika masuk akhir-akhir, kok jadi tentang Poligami?".

Lance juga mengaku bingung kenapa sih setiap kali tokoh Maria mengeluarkan darah dari hidungnya pasti jatuhnya di tangan kirinya yang ada tato salibnya?, apa maksudnya?. Apakah itu sebagai symbol bahwa Maria akan menghapus tanda salib tersebut? Atau sebagai sinyal kalau Maria akan convert to Islam?.Jadi pesan yang hendak dibawa oleh film ini tumpang tindih dan tidak jelas.

Sempat pula dipertanyakan oleh Lance tentang bagaimana reaksi orang Kristen terhadap film ini. Sejauh sepengetahuanku sepertinya film ini tidak menuai protes apa-apa dari orang Kristen. aku tidak tahu, apakah karena orang Kristen Indonesia tidak berani berkomentar? atau karena mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut? atau bahkan karena mereka tidak pernah menonton film ini?.

Walaupun aku udah nonton film ini lebih dari satu kali, tapi terus terang aku tidak pernah berpikir sejauh itu, mungkin setting pikiranku sebagai orang Islam dan Indonesia berbeda dengan cara melihat dari seorang Lance yang America terhadap film ini. Aku jadi ingat komentar seorang kawan di Indonesia setelah melihat film ini "Akhirnya si Maria masuk Islam juga ya, alhamdulillah." Ini tentu berbeda dengan Lance yang berkomentar, "Kalau aku jadi sutradaranya, aku tetep biarkan Maria itu sebagai Kristen Coptic, biar di situ terlihat keharmonisan hubungan Islam dan Kristen, dan aku pikir ini akan menjadi gambaran yang bagus bahwa Islam itu sebenernya benar-benar agama yang peace."

Lalu bagaimana dengan pendapat anda sendiri? salam

Hawaii, September 13, 2008

Perempuan Bercadar dan Strereotype

Saya belum pernah punya kawan yang bercadar. Tapi dulu, saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) S1 teman satu post saya adalah pemakai jilbab besar. Dari situ saya belajar banyak, bagaimana prinsip dan pandangan perempuan-perempuan yang lebih suka menutup seluruh tubuhnya dengan baju yang longgar dan jilbab yang nyaris menutup sebagian tubuhnya. Teman saya ini orangnya asik, bahkan dia hobi ngebut kalau naik motor. Saya enjoy mengobrol dengan dia. Kami suka berdiskusi banyak hal. Walaupun saya termasuk penyuka celana jeans, tapi teman saya ini tidak pernah menghakimi, atau menggurui. Dia berpikir cara berpakaian adalah sifatnya individual. Tidak ada yang salah dalam berpakaian, karena tergantung bagaimana orang mengenali dirinya sendiri.

Sejak saat itu saya tidak pernah memandang sebelah mata pada orang yang berpakaian beda dengan saya. Kadang saya berpikir, apakah mereka tidak ribet atau kepanasan memakai pakaian sepeti itu?. Tapi bisa jadi mereka berpikiran yang sama ke saya, apakah saya tidak malu memakai celan jins yang notabene memperlihatkan lekukan kaki saya? Jadi impaskan?? Menurut saya, sebenarnya pikiran-pikiran itu muncul ketika kita tidak saling kenal atau mengetahui.

Ketika di TV dihebohkan dengan pemberitaan tentang teroris, yang notabene perempuan-perempuan yang dekat dengan mereka selalu menggunakan cadar, saya jadi berpikir. Apakah mereka itu juga sangat seekslusif cara berpakaiannya? ataukah mereka orang yang enak juga diajak berdiskusi seperti halnya teman saya?

Beberawa waktu lalu saya berputar-putar mencari rumah kontrakan di Yogyakarta. Saat proses mencari kontrakan ini, saya menemukan kenyataan baru tentang perempuan bercadar. Saat mengobrol dengan seorang bapak dan Ibu yang kebetulan rumah orang tuanya akan dikontrakkan, Ibu itu bilang,"Dua hari lalu sebenarnya ada orang yang sudah melihat rumah itu, tempat dan harga sudah cocok, tapi Pak RT menganjurkan untuk tidak menerima pengontrak tersebut." Saya pun heran, menurut ibu tersebut sang calon pengontrak ini istrinya memakai cadar. Masih menurut Ibu tadi, di beberapa tempat banyak perempuan bercadar yang diusir dari kontrakan. Bahkan ada yang mau mengontrak dua tahun, tapi baru berjalan dua bulan sudah diminta keluar.

Saya prihatin sekali dengan kondisi ini. Tapi saya mencoba melihat dari dua sisi. Andaikan saya menjadi pemilik kontrak tentu saya memiliki kekhawatiran yang tidak berbeda. Media telah membentuk persepsi bahwa orang yang bercadar dan juga keluarganya harus dicurigai sebagai orang-orang dari kelompok teroris. Lalu apakah semua perempuan bercadar juga anggota teroris?. Saya bayangkan betapa sakit dan sedihnya para perempuan itu terusir dari kontrakan dan sulit diterima di masyarakat. Mereka juga selalu dipandang sebagai orang yang harus dicurigai sebagai teroris. Padahal jelas-jelas belum tentu mereka bersalah. Hanya karena segelintir orang yang membuat teror, imbasnya mengenai ke banyak orang.

Walaupun memang benar kebanyakan perempuan terdekat para teroris tersebut memakai jilbab bercadar, tapi apakah mereka adalah bagian dari jaringan tersebut?. kenyataan yang ada kebanyakan dari mereka juga korban. Lihat perempuan-perempuan yang hanya digunakan oleh Nurdin M Top sebagai tameng persembunyian. Mereka dinikahi dengan mengunakan nama palsu, setelah memiliki anak mereka ditinggal. Lagi-lagi perempuan menjadi korban. Bila melihat kenyataan ini, perempuan menjadi korban dua kali. Pertama mereka dinikahi dengan tidak bertanggung jawab, lalu mereka juga harus menanggung beban atas asumsi masyarakat.

Melihat kondisi seperti ini, seharusnya pemerintah turut ambil bagian dalam mengatasi masalah. Semisal, perempuan bercadar dan keluarganya diberi surat pengantar dari perangkat desa yang nantinya bisa menjadi bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak terlibat jaringan teroris. Surat ini akan menjadi jaminan bagi mereka untuk bisa diterima oleh masyarakat dan akhirnya mereka akan bisa mendapat tempat tinggal. Bayangkan ketika mereka tidak memeliki tempat tinggal, dimana mereka akan tidur? Bagaimana dengan anak-anak mereka?. Siapun mereka, dan bagaimanapun cara berpakaian mereka, tetap saja mereka adalah manusia dan warga Indonesia yang negara harus turut menjamin kehidupan yang layak.