Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Sunday, September 26, 2010

Darah Tercecer

Duarrrrrrrrr

Dentuman meriam pecah seiring dengan lengkingan suaramu
Menjerit
Darah mengucur bagaikan hujan
Langit kelam
Halilintar merobek indahnya sinar bulan

Dagingmu hitam terpanggang
Serpihan meriam telah mecopoti jari-jarimu
hingga terberai dimakan tikus curut

Purdah yang menutupi tubuh sucimu tak lagi berbentuk
bahkan harum zaitun dari tubuhmu telah berubah
jadi bau anyir, bau kematian

Seonggok tubuh mungil yang baru menghirup panasnya udara dunia sebulan lalu masih dalam dekapanmu
Dia diam
Tak menjerit
Tak berteriak
Tak juga merintih

Selimut yang membalut tubuh merah bayi itu terkoyak
Membuyarkan separuh lengan mungilnya
Dan potongan lengannya terlempar di ujung kamar sempit yang telah poranda

Tak ada air mata keluar
Badanmu hanya menggigil menahan perih dan kesakitan di sekujur tubuh

Duarr....

Bunyi meriam terdengar lagi
Dan tubuhmu bagaikan kambing yang disembelih saat lebaran idul Adha
Mengejang...
Bergetar..
Melotot..
Mata, hidung, mulut, dan telingamu memuntahkan darah segar
dan....
Dengan sisa nyawa kau mencoba mendekap tubuh anakmu
Sebelum akhirnya malaikat benar-benar mencabut nyawamu
Mengantarkanmu berkumpul dengan anak dan suamimu

Selamat jalan perempuan Palestinaku

Tidak Harus Jadi Besar

"Hari ini ada rencana apa?" sapa burung yang tidak aku tahu kapan datangnya, tiba-tiba sudah bertengger di jendela kamarku, tepat di depan laptopku. Aku hanya tersenyum melihat burung yang ekornya berbulu merah itu.

Ternyata senyumku belum merupakan jawab bagi dia, hingga kedua kalinya dia mengajukan pertanyaan yang sama.

"Engak kemana-mana, di kamar aja. Lagian lagi bokek gini kok," jawabku sambil beranjak menuju kulkas untuk mengambil air putih. Dari ujung mataku, aku lihat dia berpindah posisi. Dia sekarang bukan hanya di depan laptopku tapi sudah mencengkeramkan kaki kecilnya di atas monitor laptopku, sambil matanya yang bundar kecil itu melihat-lihat foto-foto yang aku buka dari FB ku.

Entah kenapa burung mungil yang hingga kini tidak aku tahu namanya itu selalu rajin datang menghampiri jendelaku. Bila jendelaku masih tertutup, dia pasti mematuk-matuk seperti meminta untuk dibukakan. Bila aku sedang tidak tidur dan sedang di kamar, aku akan segera membuka gorden dan jendelaku, dan membiarkannya bertenger di ujung jendela. Kalau tidak ada tugas yang harus aku selesaikan, aku suka menemani burung ini. Biasanya aku akan duduk di atas meja panjangku sambil mendekap kedua lututku di dada. Bunyi air sungai yang mengalir dengan air bening menjadi pemandangan yang membuatku dan burung ini betah duduk berlama-lama di jendela pojok kamarku.

"Emang kamu mau ngajak aku jalan-jalan?" tanyaku sambil duduk kembali di depan laptop dan ngelanjutin tag foto-foto di FB. Burung itu tidak menjawab, dia masih sibuk mengibas-ngibaskan ekor merahnya.

"kenapa kamu enggak belajar terbang seperti aku," jawabnya tiba-tiba. Hemmm.......terbang? aku mengernyitkan dahiku. Sepertinya menarik tuh.

"Aku kecil, tapi aku tahu banyak hal, karena aku selalu berusaha mengepakkan sayapku yang tak seberapa besar ini untuk mencari hal-hal baru." Aku masih belum menjawab, tapi pikiranku mulai bekerja mencerna ucapan burung ini.

"Tidak perlu jadi besar untuk tahu banyak hal, yang penting adalah kemauan." Itu ucapan terahirnya sebelum dia terbang keluar dari kamarku dan bergabung dengan burung-burung lain kebetulan sedang terbang dari pohon-pohon di halaman.

Iya, aku punya banyak hal, tapi kenapa aku hanya diam dan tidak terbang??